19 Maret 2013
19 Maret 1993 Ibuku dengan susah payah telah melahirkanku, dan mereka berdua orangtuaku telah membesarkan dan mendidikku hingga saat ini.
Semoga keselamatan dan anugerah tuhan senantiasa melimpahi setiap detik dalam hidup mereka.
Nafas pagi ini adalah nafas penuh nikmat dan anugerah yang masih dititipkan Tuhan kedalam jiwaku dengan segala indera yang diberikan lengkap sempurna.
Melalui waktu demi waktu pertanda jatah umur semakin berkurang, namun rasa syukur tetap terpanjatkan karena masih diberi kehidupan dengan orang-orang tersayang disekeliling.
Semoga umurku yang semakin bertambah seiring dengan bertambahnya kesejahteraan keluargaku, ilmuku, tanggung jawabku dan kebahagiaan orang-orang disekelilingku.
Senin, 18 Maret 2013
PELAJARAN HARI INI
15 Maret 2013
Risty Krisinggih
Risty Krisinggih
KECELAKAAN MAUT LALU LINTAS
Hari ini aku berangkat dari rumah Pujon ke Malang. Seperti biasanya aku nyupir motor sambil menyanyi nyanyi mulai dari lagu indo, manca, dari A sampai Z. Kali ini perjalananku aku lalui dengan was-was mengingat STNK motorku yang sepertinya diilangin sama Reza temenku. Uda gitu tiba tiba ujan deres melanda pas aku nyampe Kota Batu. Tapi berkat jas hujan, aku masih bisa lanjutkan perjalanan sementara orang-orang pada berteduh di tepi-tepi ruko sepanjang jalan.
Pas nyampe di Beji di sekitar Singhasari, tiba-tiba lalu lintas macet dan akupun injak rem belakang dalam-dalam sebab kampas rem ku memang harusnya minta diganti. Aku deg-degan kalau-kalau ada razia motor didepan. Sempat terbesit juga mungkin saja itu macet akibat ada kendaraan yang pengen keluar dari Singhasari. Lajuku pelan sekali bahkan kedua kakiku sampe harus napak di jalanan aspal yang basah kuyup akibat air hujan. Pas aku nyampe 10 meter setelah pertamakali macet, alangkah terkejutnya ketika aku toleh ke kanan jalan arah arus balik. AAAAAAAAA, sempat kehilangan konsentrasi mengemudi sesaat sampai aku tersadar kembali saat mobil belakang mengklakonku. Betapa tidak, di kanan jalan terdapat 1 mobil dengan 1 motor yang terjepit dibawahnya. Dan dibelakang mobil itu tergeletak seorang manusia yang sudah tersungkur bersimbah darah merah segar ditutupin jaket di seperempat bagian atas tubuhnya. Oh nooooooo, itu nampaknya bukan lagi seorang manusia, melainkan sesosok mayat. Nampak jelas darah itu bergelinang hebat disekitar mayat sampai hampir memenuhi jalan bagian kanan. Kejadian itu nampak jelas dimataku meskipun tersamar-samar oleh orang-orang berpayung yang mengelilinginya, meskipun hujan deras mengguyur kawasan itu dan membuat helmku berembun, dan meskipun tak lama aku terjebak dalam situasi itu.
Astaghfirullahhaladziiiiim, Astaghfirullahhaladziiiiim. Dalam hati aku langsung istighfar dan tiba-tiba tanganku melemas dan jantungku berdebar seperti ketakutan yang amat sangat. 3 menit setelah itu aku coba keluar dari situasi yang mencekam hati dan fikiranku itu dan kembali konsentrasi terhadap apa yang sedang aku lakukan, yaitu mengendarai sepeda motor di antara hujan lebat. Kemudian aku berfikir agar lebih hati-hati dalam berkendara saat itu, karena bisa saja kejadian tadi terjadi padaku kapanpun atau bahkan saat ini. Gambaran jelas situasi yang terekam tadi membuat aku terus berfikir akan kematian. Kematian bisa datang kapan saja tanpa mengenal waktu dan juga tempat. Ya Allah, semoga senantiasa aku diberikan keselamatan begitu juga dengan kedua orangtuaku. Ambilah nyawaku dengan keadaan yang baik, yang khusnul khatimah. Aku terus berdoa sampai berlinang airmata dibalik kaca helmku.
Sejatinya manusia memang pada akhirnya akan bertemu dengan maut atau kematian. Dan pelajaran hari ini adalah aku senantiasa ingat kembali akan adanya hari kematianku. Sehingga menjadi lebih hati-hati dalam bertindak dan bertutur kata. Sebab besok aku matipun siapa tau. Dan semoga orang yang kutemui tadi cepat diberi pertolongan untuk setidaknya jasadnya tidak tergelimpang ditengah jalan dan kehujanan. Amiiiin.
Kamis, 07 Maret 2013
TRIK JITU ATUR WAKTU
Malang, 22 Februari 2013
Risty Krisinggih
Risty Krisinggih
TRIK JITU ATUR WAKTU
Waktu adalah sesuatu yang tidak dapat diperlama, dipercepat ataupun dikembalikan. Jika dikaji ulang mengenai apa itu pentingnya waktu, maka saya setuju jika dikatakan bahwa “time is money”. Bahkan bagi saya bisa jadi time more important than money.
Kali ini saya akan sedikit membagi pengalaman pribadi tentang nagaimana caranya, bagaimana sulitnya, dan seperti apa cara mengatur waktu yang saya punya sebagai seorang mahasiswa yang setiap hari harus berkutat dikampus, membaca, mendengarkan dosen mengajar dan mengerjakan tugas. Sebagaimana juga saya adalah seorang aktivis yang juga dituntut dengan serangkaian tanggungjawab. Mungkin teman-teman yang ikut organisasi sudah merasakan sendiri betapa banyaknya kegiatan dan tugas yang harus diselesaikan di organisasi. Mulai dari rapat, tugas kepanitiaan, keluar lapang, latihan rutin, dll yang bisa saja menyita banyak waktu dan tenaga jika kita tidak mampu membagi waktu. Untuk itulah sekiranya ada trik-trik dari saya dengan harapan membantu teman-teman yang sedang bingung mengatur waktu, karena dulupun saya juga mengalaminya.
Kesalahan dalam membagi waktu antara kuliah dan organisasi bisa menyebabkan kuliah berantakan, atau organisasi yang berantakan bahkan bisa dua-duanya berantakan tanpa kita dapatkan manfaatnya. Saya masih ingat dosen saya pernah bilang bahwasanya mahasiswa profesional adalah mahasiswa yang menghabiskan waktunya untuk duduk, membaca, menulis, mendengarkan dan merangkum. Tapi saya tidak setuju dengan pendapat itu. Karena bagi saya, mahasiswa yang seperti itu suatu saat akan merugi ketika ia melewatkan nikmatnya berorganisasi, nikmatnya berkegiatan dan mendapatkan berjuta pengalaman, pengetahuan baru serta soft skill yang tidak dapat kita dapatkan dibangku kuliah. Hal inilah yang selanjutnya dijadikan sebuah pertanyaan, bagaimanakah seharusnya agar kita bisa menjadi seorang mahasiswa yang cerdas juga sebagai aktivis aktif yang mampu menoreh prestasi dikeduanya?
Disinilah pertanyaan itu selanjutnya harus kita tanyakan pada diri sendiri. Ini adalah trik pertama. Kedua, kita bikin kalender pribadi yang mampu merekab semua jadwal aktifitas pribadi selama 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, ataupun 1 tahun beserta seluruh target kerja yang harus dikerjakan baik itu tugas kuliah ataupun tugas kepanitiaan di organisasi. Ketiga, kita bawa kalender pribadi itu setiap saat kemanapun kita pergi agar selalu mengingat, selalu meng update, selalu menstrategikan, selalu mencari celah waktu dan bisa mengaksesnya dengan mudah setiap saat setiap kita inginkan. Akan lebih baik jika kalender pribadi ini berbentuk mini yang bisa dimasukkan dompet atau saku biar lebih praktis. Keempat, bikin perencanaan dan janji atau deadline yang pasti kita bisa jalankan, bukan terkesan asal-asalan atau gambling. Kelima, kita jalankan apa yang sudah kita konsepkan dan menilai sendiri seberapa jauhkah konsepan itu berjalan. Bahkan kalau perlu kita evaluasi diri sendiri atas konsepan yang tidak berjalan.
Organisasi tidak akan menjadi momok yang merenggut waktu kita jika kita alokasikan waktu yang ideal untuknya. Tidak berlebih dan tidak juga kurang. Dulu sering sekali saya tanyakan kepada senior tentang bagaimana caranya agar tetap aktif di organisasi tetapi kuliah juga tetep okke. Ibaratnya tetep dapet IP baguslah. Wejangan senior macam-macam mulai dari A sampai Z. Namun pada intinya adalah kembali lagi pada diri sendiri tentang bagaimana kita mampu konsisten dalam membagi waktu. Jadi semoga sedikit coretan ini bermanfaat bagi teman-teman untuk lebih mahir dalam membagi waktunya.
Disinilah pertanyaan itu selanjutnya harus kita tanyakan pada diri sendiri. Ini adalah trik pertama. Kedua, kita bikin kalender pribadi yang mampu merekab semua jadwal aktifitas pribadi selama 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, ataupun 1 tahun beserta seluruh target kerja yang harus dikerjakan baik itu tugas kuliah ataupun tugas kepanitiaan di organisasi. Ketiga, kita bawa kalender pribadi itu setiap saat kemanapun kita pergi agar selalu mengingat, selalu meng update, selalu menstrategikan, selalu mencari celah waktu dan bisa mengaksesnya dengan mudah setiap saat setiap kita inginkan. Akan lebih baik jika kalender pribadi ini berbentuk mini yang bisa dimasukkan dompet atau saku biar lebih praktis. Keempat, bikin perencanaan dan janji atau deadline yang pasti kita bisa jalankan, bukan terkesan asal-asalan atau gambling. Kelima, kita jalankan apa yang sudah kita konsepkan dan menilai sendiri seberapa jauhkah konsepan itu berjalan. Bahkan kalau perlu kita evaluasi diri sendiri atas konsepan yang tidak berjalan.
Organisasi tidak akan menjadi momok yang merenggut waktu kita jika kita alokasikan waktu yang ideal untuknya. Tidak berlebih dan tidak juga kurang. Dulu sering sekali saya tanyakan kepada senior tentang bagaimana caranya agar tetap aktif di organisasi tetapi kuliah juga tetep okke. Ibaratnya tetep dapet IP baguslah. Wejangan senior macam-macam mulai dari A sampai Z. Namun pada intinya adalah kembali lagi pada diri sendiri tentang bagaimana kita mampu konsisten dalam membagi waktu. Jadi semoga sedikit coretan ini bermanfaat bagi teman-teman untuk lebih mahir dalam membagi waktunya.
SUNGAI BRANTAS BIKIN PERUTKU MUAL
Malang, 7 Maret 2013
Risty Krisinggih
Risty Krisinggih
SUNGAI BRANTAS BIKIN PERUTKU MUAL
Lama juga rasanya gak corat coret disini. Oke, kali ini ingin cerita soal mataku. Ya, mata kiriku yang mungkin saat ini lagi ngambek, sakit, berair, memerah dan entah apalah namannya. Cerita berawal ketika lathan arung jeram pengarungan ke Sungai Brantas. 3 hari (1-3 Maret 2013) nemenin adek22 Anggota Muda IMPALA UB belajar arung jeram di Sungai Brantas agaknya membuat aku sakit perut, muntah-muntah dan sakit mata yang efeknya kurasakan hingga saat ini, 4 hari setelah hari H. Ya, ya, ya. Benar sekali bahwa saat ini Sungai Brantas yang dulu pernah menjadi point penting bagi kehidupan ribuan orang yang tinggal disekitarnya kini mungkin berbalik fungsi menjadi sungai yang dapat membahayakan penduduk disekitarnya. Bagaimana tidak, kandungan airnya sudah sedemikian tercemarnya yang diakibatkan oleh sampah dan limbah yang dibuang kepadanya. Pantas saja sepulang dari Desa Karang Duren, aku langsung muntah-muntah dimalam harinya. Perutku rasanya dikoyak kesana kemari hingga diarepun juga kualami.
Sungai Brantas adalah salah satu sungai di Jawa Timur dengan panjang 320 km serta daerah pengaliran sungai (DPS) seluas 12.000 km2 (Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Brantas, 2002). Sungai ini melewati beberapa kota di Jawa Timur seperti Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto, dan bermuara di Kota Surabaya. Konon ceritanya, dulu waktu zaman Kerajaan Kediri Sungai Brantas menjadi sumber penghasilan penduduk. Pada massa itu pemimpin yang terkenal yakni Prabu Jayabaya. Airnya bening dan banyak hidup aneka ragam ikan, sehingga makanan berprotein dan bergizi selalu tercukupi. Hasil bumi itu kemudian diangkut ke kota Jenggala, dekat Surabaya, dengan naik perahu menelusuri sungai. Massa itu kerajaan Kediri benar-benar dapat disebut sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja.
Saat ini, berbagai macam kerusakan telah dicatat dan memberikan indikasi degradasi kualitas air sungai sehingga berdampak negatif pada kondisi biota yang hidup di dalam Sungai Brantas. Kualitas air sungai merupakan hal yang sangat penting karena sungai adalah sumber air utama yang digunakan untuk kebutuhan air minum, pertanian, perikanan, dan kepentingan industri. Kualitas air ini mengalami degradasi sebagai akibat beban pencemaran sungai yang berasal dari aktivitas manusia seperti intensifikasi pertanian dan pengembangan kota. Sederet aktifitas diatas pula yang membuat kejayaan Sungai Brantas di era ini tak lagi gemilang seperti dulu.
Now, Brantas River does not look like in 1980s. The water condition is not proper to be used by many needs since a decade ago. The expert for environment in Universitas Brawijaya, Dr Ir Suharjono MS explaied, water in Brantas is soiled with family and industrial waste. According to him, the chemical content in the water is over the maximal rate which is more than 0.5 ppm (part per million), so it is dangerous for health to consume. (Prasetya Online) http://prasetya.ub.ac.id/kliping/en/html/12489
Now, Brantas River does not look like in 1980s. The water condition is not proper to be used by many needs since a decade ago. The expert for environment in Universitas Brawijaya, Dr Ir Suharjono MS explaied, water in Brantas is soiled with family and industrial waste. According to him, the chemical content in the water is over the maximal rate which is more than 0.5 ppm (part per million), so it is dangerous for health to consume. (Prasetya Online) http://prasetya.ub.ac.id/kliping/en/html/12489
Gambar diatas adalah kondisi air sungai saat ini.
Miris rasanya melihat warna airnya yang saat ini. Coklat, kotor, keruh bahkan minim biota yang hidup didalamnya. Jadi membayangkan, seperti apa ya Sungai Brantas pada jaman kerajaan Kediri dulu? Mungkin tidak perlu ragu kalau tak sengaja harus menelan air saat self rescue (renang jeram). Ha ha ha, gila juga kalau mau arung jeram di massa itu....bisa di hukum sama Prabu Jayabaya kali ya... Aktivitas perdagangan di sungai jadi macet karena sekawanan olahragawan arung jeram. Hahahaha.
Nah, ini ada sebuah program kegiatan yang kebetulan besok Hari Sabtu akan aku ikutin sama teman-teman yang lain dari IMPALA UB yang merupakan salahsatu partisipasi IMPALA UB (Organisasi Pencinta Alam Universitas Brawijaya) dalam upaya turut melestarikan lingkungan. Yakni bersih-bersih Sungai Brantas. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Jawa Pos (Radar Malang) dengan TNI, Polri dan instansi pemerintah maupun swasta se-Malang Raya.
http://www.bumn.go.id/jasatirta1/publikasi/berita/pjt-i-suport-kegiatan-bersih-bersih-kali-brantas/
http://lantamal5.tnial.mil.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1490&Itemid=63
Harapanku semoga sedikit partisipasiku secara individu serta teman-temanku dari Organisasi Pencinta Alam Universitas Brawijaya (IMPALA UB) besok hari Sabtu tanggal 9 Maret 2013 itu dapat berjalan lancar dan bermanfaat bagi lingkungan. Dan semoga lain kali ketika aku latihan arung jeram di Sungai Brantas again, idak seberapa menderita seperti saat ini. hehehe
Minggu, 16 Desember 2012
By: Risty Krisinggih
Malang, 22 September 2012
Meru Betiri, sebuah taman nasional yang terletak diujung pulau jawa ini merupakan taman nasional terbesar yang ada di Pulau Jawa. Tepatnya terdapat di dua kabupaten yakni Kabupaten Jember dan Banyuwangi. Siapa yang belum pernah mengunjunginya?
TNMB memiliki banyak tempat yang patut untuk dikunjungi. Diantaranya ada Pantai Sukamade, Pantai Rajegwesi, Pantai Bandealit, Teluk Hijau, Teluk Pemirsan dan masih banyak tempat menarik lainnya. keragaman flora dan faunanyapun tidak diragukan. Fauna diantaranya yaitu rusa, penyu dan banteng. Sedangkan floranya, ada bunga raflesia dan masih banyak lagi tumbuhan mangrovenya.
Kali ini saya akan berbagi pengalaman pribadi berkunjung ke TN. Meru Betiri pada 15-17 September 2012 bersama 14 teman dari IMPALA UNIBRAW. Route yang saya lewati yaitu dimulai dari Malang-Singosari-Lawang-Pasuruan-Probolinggo-Lumajang-Jember-Glendmore-Genteng-Jajak-Pesanggaran-Rajegwesi-Sukamade.
Kami berangkat dari Malang pada pukul 01.30 malam dengan mengendarai motor. Kami sampai di pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri yakni di pos perizinan Pantai Rajegwesi pada pukul 15.00 sore. Sedangkan untuk sampai ditujuan utama kami yakni Pantai Sukamade (tempat kegiatan konservasi penyu), kami masih harus menempuh jarak 32 km dari Pantai Rajegwesi. Yang penting untuk diketahui adalah kondisi jalannya 90% rusak, ditambah lagi keadaannya yang naik turun dan terjal. Jadi, hanya kendaraan motor trail adventure atau mobil jip 4WDlah yang recomended untuk dibawa ke tempat ini.
Setelah itu, sampailah kami di Basecamp Pantai Sukamade pada pukul 19.17. Disini terdapat berbagai fasilitas untuk pengunjung. Lokasi basecamp ini terletak 700m dari bibir pantai.
Malam hari pukul 20.00 kami akan mengamati penyu bertelur di pantai. Ada dua hal yang perlu dicatat untuk melihat aktivitas penyu. Pertama, pengunjung dilarang berisik dan kedua, dilarang menyalakan cahaya. Hal ini karena penyu sangat peka terhadap adanya suara dan cahaya. Jika penyu merasa terganggu, ia tidak akan bisa bertelur dengan sempurna (kecacatan pada telur atau pengurangan jumlah telur).
Setibanya di pantai, kami menunggu petugas yang sedang mencari keberadaan penyu. Setelah beberapa jam kemudian, petugas yang mengedipkan lampu senternya sebanyak 3 kali. Ini pertanda bahwa ia telah menemukan penyu yang hendak bertelur. Jadi kami harus segera menuju lokasi sumber cahaya tersebut. Disinilah kita bisa melihat bagaimana proses penyu yang sedang bertelur.
Oiya ada hal yang menarik dari perilaku penyu. Penyu akan selalu kembali ke bibir pantai dimana ia dulu ditetaskan saat dia ingin mengeluarkan telurnya. Waaah, luar biasa sekali ya? Penyu dapat bertelur hingga 4 kali dalam hidupnya. Dalam sekali bertelur, penyu betina bisa menghasilkan 50 hingga 200 butir telur, sedangkan umur penyu bisa mencapai 50 tahun atau lebih. Ukuran penyu yang kami amati ini besarnya setara manusia 12 tahunan, besar juga ya?
Baiklah, lanjut ke proses bagimana penyu bertelur. Awalnya, penyu betina dewasa menuju ke daratan, kemudian si penyu ini akan menggali lubang di pasir. Ia menggali dengan sirip depan dan sirip belakangnya. sirip depannya berfungsi sebagai penggali lubang untuk badannya. Sedangkan sirip belakangnya memiliki fungsi mirip seperti tangan manusia yang berguna untuk menggali lubang pasir sebagai tempat telur yang akan keluarkannya. Oiya, penyu ini sangatlah cerdas, ia mampu memperkirakan seberapa besar lubang pasir yang harus ia gali sehingga ukurannya pas untuk jumlah telur-telur yang akan ia keluarkan. Unik sekali bukan?
Ketika penyu sudah mulai bertelur seperti ini, barulah kami diizinkan untuk menghidupkan cahaya dan bersuara. Pengamatan kamipun berlanjut. Setelah lubang pasir sedalam 30-60cm terbentuk, mulailah ia mengeluarkan telur-telurnya dari ekor. Satu persatu butiran telur putih bersih berdiameter sekitar 5 cm keluar secara bergantian. Proses ini berlangsung sekitar 45menit untuk menggali sarang serta 10-20 menit untuk meletakkan telurnya. Peristiwa ini sangatlah unik untuk diamati
Setelah penyu betina menutup galian dan kembali ke laut, kami mengumpulkan telur-telurnya untuk dibawa ke tempat penetasan telur penyu. Ini adalah bagian dari proses konservasi penyu itu sendiri. Tujuannya untuk melindungi telur-telur penyu agar bisa menetas dengan selamat tanpa gangguan dari pemangsa atau predator yang sewaktu-waktu bisa saja memakannya jika tetap berada di tepi pantai tanpa perlindungan. Setelah semua kegiatan ini, kami kembali ke basecamp dan beristirahat.
Keesokan harinya, sekitar jam 05.00 pagi, adalah waktu dimana telur yang kami bawa kemarin harus ditanam dalam pasir di ruangan kusus yang didesain sedemikian rupa untuk penetasan tukik (anak penyu yang masih bayi). Telur itu dipendam dalam pasir dengan kedalaman sekitar 50cm dan ditandai dengan lebel yang berisi informasi tentang jenis telur, jumlah telur, tanggal penanaman dan siapa yang menanam. Telur ini dibiarkan selama sekitar 7-12 minggu untuk dapat menetas menjadi tukik. Waaah, lama juga ya prosesnya.
Setelah 7-12 minggu berada di dalam pasir, tukik akan memecah cangkang telurnya dan berusaha naik ke permukaan selama 1 sampai 2 hari. Proses ini sangatlah unik. Mereka naik ke permukaan secara bergantian dengan tingkahnya yang menggemaskan. Luar biasa sekali. Nah, tukik yang sudah menetas ini kemudian akan dilepaskan kembali ke laut untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Beginilah kegiatan petugas konservasi setiap harinya.
Banyak sekali pelajaran berharga yang dapat kami peroleh di tempat ini. Taman Nasional Meru Betiri adalah Taman Nasional yang menyimpan berjuta pesona keagungan tuhan. Didalamnya terdapat banyak sekali ciptaan Tuhan yang mungkin belum pernah kita ketahui. Semakin manusia dekat dengan alam, maka semakin bersyukurlah manusia itu dan menyadari akan hakikatnya sebagai khalifah yang diciptakan untuk menjaga dan melestarikan alam. Terimakasih kepada IMPALA UNIBRAW yang telah memberikan banyak sekali pengalaman berharga kepada saya dan teman-teman.^_^.
Kali ini saya akan berbagi pengalaman pribadi berkunjung ke TN. Meru Betiri pada 15-17 September 2012 bersama 14 teman dari IMPALA UNIBRAW. Route yang saya lewati yaitu dimulai dari Malang-Singosari-Lawang-Pasuruan-Probolinggo-Lumajang-Jember-Glendmore-Genteng-Jajak-Pesanggaran-Rajegwesi-Sukamade.
Kami berangkat dari Malang pada pukul 01.30 malam dengan mengendarai motor. Kami sampai di pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri yakni di pos perizinan Pantai Rajegwesi pada pukul 15.00 sore. Sedangkan untuk sampai ditujuan utama kami yakni Pantai Sukamade (tempat kegiatan konservasi penyu), kami masih harus menempuh jarak 32 km dari Pantai Rajegwesi. Yang penting untuk diketahui adalah kondisi jalannya 90% rusak, ditambah lagi keadaannya yang naik turun dan terjal. Jadi, hanya kendaraan motor trail adventure atau mobil jip 4WDlah yang recomended untuk dibawa ke tempat ini.
Setelah itu, sampailah kami di Basecamp Pantai Sukamade pada pukul 19.17. Disini terdapat berbagai fasilitas untuk pengunjung. Lokasi basecamp ini terletak 700m dari bibir pantai.
Malam hari pukul 20.00 kami akan mengamati penyu bertelur di pantai. Ada dua hal yang perlu dicatat untuk melihat aktivitas penyu. Pertama, pengunjung dilarang berisik dan kedua, dilarang menyalakan cahaya. Hal ini karena penyu sangat peka terhadap adanya suara dan cahaya. Jika penyu merasa terganggu, ia tidak akan bisa bertelur dengan sempurna (kecacatan pada telur atau pengurangan jumlah telur).
Setibanya di pantai, kami menunggu petugas yang sedang mencari keberadaan penyu. Setelah beberapa jam kemudian, petugas yang mengedipkan lampu senternya sebanyak 3 kali. Ini pertanda bahwa ia telah menemukan penyu yang hendak bertelur. Jadi kami harus segera menuju lokasi sumber cahaya tersebut. Disinilah kita bisa melihat bagaimana proses penyu yang sedang bertelur.
Oiya ada hal yang menarik dari perilaku penyu. Penyu akan selalu kembali ke bibir pantai dimana ia dulu ditetaskan saat dia ingin mengeluarkan telurnya. Waaah, luar biasa sekali ya? Penyu dapat bertelur hingga 4 kali dalam hidupnya. Dalam sekali bertelur, penyu betina bisa menghasilkan 50 hingga 200 butir telur, sedangkan umur penyu bisa mencapai 50 tahun atau lebih. Ukuran penyu yang kami amati ini besarnya setara manusia 12 tahunan, besar juga ya?
Baiklah, lanjut ke proses bagimana penyu bertelur. Awalnya, penyu betina dewasa menuju ke daratan, kemudian si penyu ini akan menggali lubang di pasir. Ia menggali dengan sirip depan dan sirip belakangnya. sirip depannya berfungsi sebagai penggali lubang untuk badannya. Sedangkan sirip belakangnya memiliki fungsi mirip seperti tangan manusia yang berguna untuk menggali lubang pasir sebagai tempat telur yang akan keluarkannya. Oiya, penyu ini sangatlah cerdas, ia mampu memperkirakan seberapa besar lubang pasir yang harus ia gali sehingga ukurannya pas untuk jumlah telur-telur yang akan ia keluarkan. Unik sekali bukan?
Ketika penyu sudah mulai bertelur seperti ini, barulah kami diizinkan untuk menghidupkan cahaya dan bersuara. Pengamatan kamipun berlanjut. Setelah lubang pasir sedalam 30-60cm terbentuk, mulailah ia mengeluarkan telur-telurnya dari ekor. Satu persatu butiran telur putih bersih berdiameter sekitar 5 cm keluar secara bergantian. Proses ini berlangsung sekitar 45menit untuk menggali sarang serta 10-20 menit untuk meletakkan telurnya. Peristiwa ini sangatlah unik untuk diamati
Setelah penyu betina menutup galian dan kembali ke laut, kami mengumpulkan telur-telurnya untuk dibawa ke tempat penetasan telur penyu. Ini adalah bagian dari proses konservasi penyu itu sendiri. Tujuannya untuk melindungi telur-telur penyu agar bisa menetas dengan selamat tanpa gangguan dari pemangsa atau predator yang sewaktu-waktu bisa saja memakannya jika tetap berada di tepi pantai tanpa perlindungan. Setelah semua kegiatan ini, kami kembali ke basecamp dan beristirahat.
Keesokan harinya, sekitar jam 05.00 pagi, adalah waktu dimana telur yang kami bawa kemarin harus ditanam dalam pasir di ruangan kusus yang didesain sedemikian rupa untuk penetasan tukik (anak penyu yang masih bayi). Telur itu dipendam dalam pasir dengan kedalaman sekitar 50cm dan ditandai dengan lebel yang berisi informasi tentang jenis telur, jumlah telur, tanggal penanaman dan siapa yang menanam. Telur ini dibiarkan selama sekitar 7-12 minggu untuk dapat menetas menjadi tukik. Waaah, lama juga ya prosesnya.
Setelah 7-12 minggu berada di dalam pasir, tukik akan memecah cangkang telurnya dan berusaha naik ke permukaan selama 1 sampai 2 hari. Proses ini sangatlah unik. Mereka naik ke permukaan secara bergantian dengan tingkahnya yang menggemaskan. Luar biasa sekali. Nah, tukik yang sudah menetas ini kemudian akan dilepaskan kembali ke laut untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Beginilah kegiatan petugas konservasi setiap harinya.
Banyak sekali pelajaran berharga yang dapat kami peroleh di tempat ini. Taman Nasional Meru Betiri adalah Taman Nasional yang menyimpan berjuta pesona keagungan tuhan. Didalamnya terdapat banyak sekali ciptaan Tuhan yang mungkin belum pernah kita ketahui. Semakin manusia dekat dengan alam, maka semakin bersyukurlah manusia itu dan menyadari akan hakikatnya sebagai khalifah yang diciptakan untuk menjaga dan melestarikan alam. Terimakasih kepada IMPALA UNIBRAW yang telah memberikan banyak sekali pengalaman berharga kepada saya dan teman-teman.^_^.
Selasa, 10 Juli 2012
sungai amprong airnya duingin bangettttt
Data
Sungai Amprong
Malang, Risty Krisinggih 19 Juni 2012
Sungai Amprong adalah Sungai yang
terletak di Desa Gunungsari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Provinsi
Jawa Timur. Perjalanan ke lokasi dapat ditempuh dari Kota Malang dengan
menggunakan sepeda motor sekitar....jam perjalanan. Atau menggunakan angkutan
umum dari Terminal Arjosari ke Tumpang kemudian ke Desa Gubuklaka menggunakan
angkot GTM. keadaan jalan menuju ke lokasi naik turun, namun sudah beraspal
halus. Sepanjang perjalanan diperindah dengan perbukitan di kanan dan kiri
jalan yang mempesona dan memberikan hawa dingin namun sejuk. Oiya, ibukit-bukit
itu ditanami beragam tanaman holtikultura organik, ya, Poncokusumo ini memang
terkenal dengan pertaniannya yang organik.
Operator rafting Sungai ini bernama
Ndayung Bareng Rafting. Letaknya yaitu di Desa Gubuk Klakah, Poncokusumo Malang.
Disini dapat dilakukan berbagai macam kegiatan olahraga yang memacu adrenalin,
seperti rafting dengan tarif Rp. 199.900/org, outbound Rp. 175.000/org min 20
pax, paint ball Rp. 150.000/org min 20 pax, air softgun Rp. 125.000/org min
20pax, Camping Ground Rp. 100.000/org min 10 pax, dan paket Bromo+rafting Rp.
715.000 min 5 pax. Bagaimana? Ada yang tertarik??
Letak basecampnya sangat strategis,
kita bisa menikmati pemandangan sekitar yang menakjubkan sambil menghirup udara
segar. Operator ini baru launching pada bulan Mei 2012, jadi masih sangat baru
bagi kalangan pecinta arungjeram. Untuk saat ini, ada 8 guide handal yang siap
menemani teman-teman kalau ingin mencoba sensasi menantang di sungai Amprong
ini. buat teman-teman yang tertarik, bisa menghubungi pihak operator dengan cp 0431-7777520
atau 08170511843 atau di alamat email: ndayung@gmail.com
atau ndayung blogspot.com
Sungai Amprong ini memiliki
karakteristik banyak batu, berarus kuat, namun sedikit dangkal. Menurut saya,
sungai ini memiliki grade 3-3,5. Jeram yang dimilikinya ada banyak sekali,
diantaranya yaitu: Jeram Welcome, Jeram Batu Tumpuk, Jeram Gajah, Jeram Bejo 1,
Jeram Tampar, Jeram Love, Jeram Luak, Jeram Punuk dan jeram maskotnya yakni
Jeram Loading. Akan jadi pengalaman tak terlupakan apabila teman-teman dapat
mengarungi seluruh jeram di Sungai ini. selain itu, ada juga pemandangan air
ter ditengah pengarungan, perbukitan disekelilingnya yang menawan, air
sungainya yang jernih, udaranya yang sejuk semakin menjadi alasan kuat untuk
memacu adrenalin disungai ini. sungguh rafting disungai ini sangat
menyenangkan...silahkan mencoba...^_^
Cerita aplikasi ORAD AMED XXXV IMPALA UB
By. Risty Krisinggih
Malang, 9 Juli 2012
HARI INI SEMUA BERJALAN MENGALIR
TANPA KONTROL
Aku
bilang hari ini aku gagal dalam hal penjalanan skenario. Huuh, sebel rasanya
skenario yang sudah kususun satu minggu lamanya tercipta dengan percuma seperti
kata seniorku. Meskipun malam kemarin aku sudah bela-belain tidur di sekretariat
IMPALA, toh pagi ini keberangkatan kami masih saja terlambat. Kendalanya,
pertama surat ucapan terimakasih dan surat pemberitahuan lupa belum dibikin,
kedua checklist perlengkapan pribadi juga belum selesai, ketiga draft
komunikasi juga belum selesai dibikin, lebih-lebih pagi ini ada bapak petugas
kebersihan yang jadwal menyapu halaman UKMnya tepat banget sama jadwal
pelepasan kami. Huuuh, mau gak mau harus nunggu 10 menit deh sampai beliau
selesai menyelesaikan tugasnya. Tidak hanya berujung disitu, akses transportasi
dari Bravo Tenda ke Terminal Arjosari dilanjutkan ke Terminal Probolinggo
dilanjutkan ke Pajarakan dan akses ke Base Camp Regulo Adventure juga kerap
kali menyimpang dari skenario yang aku buat. Huuh, tapi ya sudahlah, lanjut aja
ya ke cerita pengarungan hari ini.
Meskipun
keberangkatan kami tadi tidak berjalan mulus, namun pengarungan hari ini tetap
harus berjalan. Hilman Fajar Sebastian aku pilih sebagai skier pertama di
Sungai Pekalen Bawah ini. Powernya yang mumpuni menjajak sepanjang pengarungan
13km sampai finish dengan lumayan mulus, meski sesekali sempat perahu dibawa
mundur ketika masuk jeram. Namun di pengarungan pertama ini, yang mana kami
belum tahu seperti apa karakteristik sungai Pekalen Bawah yang terletak di
Kecamatan Marun Kabupaten Probolinggo, sudah bisa dikatakan lumayan mulus untuk
pemula seperti kami.
Evaluasi,
oh evaluasi. Suatu tahapan terpenting dalam pembelajaran di IMPALA. Dimana ini
merupakan suatu ajang mengakui kekurangan dan kesalahan, merekomendasikan
solusi untuk menyelesaikan permasalahan dan mengetahui bagaimana tindakan benar
yang seharusnya dilakukan oleh masing-masing anggota. Hari ini, adalah evaluasi
besar-besaran menurut aku yang kebetulan berposisi sebagai koordinasi lapangan
kegiatan Aplikasi ORAD AMED XXXV ini. Begitu banyak kekurangan yang berkaitan
dengan fungsiku sebagai seorang Korlap. Tapi untungnya ada Mas Henry dan Mas
Gedhe yang banyak memberi masukan untuk memperbaiki kesalahanku dihari ini.
LONG TRIP BERSAMA SKIPPER YANG RELA BERKORBAN
Adi
yang sedang SR
Hari
ini, 3 Juli 2012. Sesuai dengan skenarioku, hari ini pengarungan dilakukan
dengan longtrip dari Pekalen Atas 11km dan dilanjutkan dengan Pekalen Bawah
13km. Sesuai kesepakatan briefing kemarin malam, Adi Setiabudi adalah skyper
yang memimpin pengarungan kami hari ini. Bukan suatu hal mudah ketika harus
memimpin pengarungan dengan lintasan sepanjang 24km.
Sungai Pekalen atas yang
menyimpan berjuta pesona akan pemandangan eksotisnya, tebing tinggi di kanan
kirinya yang memayungi kami dari sengatan sang surya, air terjun yang luar
biasa cantiknya, serta jeram yang continue tiada habisnya menjadi pesona
tersendiri yang mampu menarik kami sebagai pecinta olahraga arung jeram ini
untuk rela menanggung berbagai resiko ketika kami sudah memutuskan untuk
mengarunginya. Namun ketika kami melakukannya sesuai dengan prosedur kerja yang
safety, maka kami tidak perlu ragu meskipun jalur Pekalen Atas ini saya bilang
lumayan berbahaya untuk pemula. Jeramnya yang continue menyebabkan sedikitnya
flat untuk beristirahat sejenak, under cutnya yang banyak menjadi momok yang
senantiasa harus dihindari dengan tindakan kilat saat itu juga, jeram maskotnya
yang lumayan berbahaya, cerukan tebing tajam yang bisa saja menyobek perahu
apalagi kulit anak manusia serta masih banyak lagi bentukan-bentukan alaminya
yang harus diantisipasi dengan benar. Namun sungguh, semua itu terbayar dengan
kepuasan yang akan kita dapatkan ketika rafting di sungai ini.
Adi
Setiabudi dengan kemampuannya membaca arus mampu membawa kami melalui jeram
demi jeram dengan aman dan selamat. Meskipun baru kali pertama turun di sungai
ini, namun dia telah mampu menunjukkan keseriusannya untuk menjadi seorang
skyper yang handal. Hehehe.
Pekalen
Atas telah selesai terlalui dengan mulus, nah ini dia cerita yang seru dihari
ini. Pekalen Bawah yang memiliki Jeram Dayung sebagai jeram maskotnya
seringkali menyebabkan problem dalam pengarungan. Skotingpun kami lakukan
sebelum melewati jeram ini. Terlebih lagi si Adi, rupanya ia sedang serius
sekali membahas bagaimana cara melalui jeram ini agar berjalan mulus dengan
guide yang menemani kami, Mas Ponidi. Beberapa menit kami habiskan untuk
mempelajari jeram ini. Kini tiba saatnya dilakukan aksi untuk dapat melaluinya.
Siaaap, dayung maju!! Adi mulai memimpin kami untuk pelan-pelan menuju mulut
jeram. Waw, arus yang sangat kuat mulai menggoyahkan arah perahu rupanya.
Blemmmm, perahu berhasil masuk, namun perahu bagian depan tersangkut di batu
besar yang memecah arus kuat menjadi dua, jalur kanan dan jalur kiri. Begitu
kerasnya Adi terlihat berusaha melepaskan perahu agar bisa lolos dari batu.
Alhasil perahupun lolos lewat sebelah kanan. Namun, kuda-kuda Adi rupanya
kurang kuat untuk menahan keberadaannya diatas perahu. Mungkin karena terlalu
berkonsentrasi mengendalikan perahu sehingga dia terjatuh di jeram maskot ini dan
rela SR (self rescue/ renang jeram) demi kami yang masih stay diatas perahu
sampai lolos melewati jeram. Memang cocok penamaan jeram ini, Jeram Dayung.
Tiga dayungpun lepas dari genggaman kami. Namun hebatnya skyper kami kali ini
berhasil menyelamatkan 2 dayung dengan segala kemampuannya melewati jeram tanpa
perahu. Salut dan jempol perlu kami acungkan untuk pengorbanan dia kali ini.
Adi terimakasih untuk segala keberanianmu hari ini.^_^d
PEMBELAJARAN
BERHARGA DARI SEORANG GUIDE
4
Juli 2012. Hari ini adalah saatnya aku Risty Krisinggih yang bertugas sebagai
skipper untuk trip Pekalen Bawah. 2 hari sebelumnya merupakan waktu yang cukup
untuk memahami bagaimana karakteristik sungai ini. oleh karena itu, aku
berfikir bahwa merupakan suatu hal yang wajib apabila hari ini aku harus jauh
lebih baik dari kedua temanku, Hilman dan Adi. Istirahat yang cukup, makan yang
banyak dan berdoa menjadi bekal yang aku siapkan untuk menyelesaikan
pengarungan hari ini.
Mas
Asnan, ketua guide Regulo Adventure adalah guide yang hari ini menemani
pengarungan kami. Pengalamannya yang banyak membuat ia mahir mengarahkan perahu
untuk menghadapi situasi sesulit apapun. Arahannya kepadaku hari ini semakin
menambah semangatku dan mengukir banyak ilmu baru disamping ilmu-ilmu yang
kudapatkan dari pemateriku yang baik Mas Henry Yuli (Nim. 2012556/IMP). Sekuat tenaga aku keluarkan semua powerku sebagai
seorang perempuan yang seringkali mendapat komentar akan kurangnya power dan
strengthku sebagai seorang skipper. Alhasil beberapa jeram di Sungai Pekalen
Bawah berhasil kami lalui. Begitu pula jeram dayung yang hari kemarin
menjatuhkan si Adi. Scoting seperti biasa menghasilkan sebuah keputusan bagiku
untuk memilih jalur kiri, kemudian pilih jalur kanan begitu masuk mulut jeram.
Kekuranganku yang lemah dayung C, membuat Mas Asnan membantu ketika melalui
jeram ini. walaupun ini bukan murni kemampuanku, tapi untunglah kami bisa
melaluinya dengan aman dan selamat. Hehe.
Hari ini banyak sekali pelajaran baru yang kudapatkan
dari Mas Asnan, seperti ferying, cara mencapai edis, dayungan yang hemat
energi, cara membaca arus dan masih banyak lagi lainnya. Terimakasih Mas Asnan.
^_^
SERU
JUGA DIBAWA MUNDUR MASUK JERAM SAMA SKIPPER SATU INI
| Hilman si skipper yang hobi bawa perahu mundur ketika masuk jeram |
Hilman Fajar Sebastian. Skipper yang
paling ahli membawa mundur perahu ketika masuk jeram ini menjadi pemimpin kami
untuk pengarungan longtrip hari ini. Pekalen Atas dengan berbagai tingkat
kesulitannya membuat Hilman sedikit kualahan kali ini. Perahu yang mundur
ketika masuk beberapa jeram menjadi suatu pengalaman tersendiri yang terukir di
memory otak kami. Hahaha, kasian Mas Gedhe yang berkali-kali rela menjadi
fotografer untuk mendokumentasikan aksi kami melewati beberapa jeram. Namun
hasil dokumentasinya kurang memuaskan karena begitu perahu masuk jeram, buritan
perahu duluan yang menyapa kamera sehingga kamera tidak mampu merekam guratan wajah
kami dengan beribu makna ketika melewati jeram.
Mundur di jeram pertama tidak menyurutkan semangat Mas
Gedhe untuk mendokumentasikan aksi kami. Maklum, ini memang longtrip terahir
kami di Pekalen Atas, jadi kami tidak mau melewatkan dokumentasi terutama di
Jeram-jeram yang bagus. Tapi, lagi-lagi Hilman membawa mundur perahu ketika
melewati jeram. Hahaha, ahli sekali dia ketika membawa perahu dengan posisi
mundur. Tapi gaya semacam ini seru juga dan memberikan kesan tersendiri bagi
kami.
PILIH
MANA? LONCAT 9 METER ATAU TIDAK ADA RECOVERY MANDI DI AIR PANAS
Jembatan
bambu di Rest Area Regulo setinggi 9 meter
6 Juli 2012. Ini menjadi hari terberat bagi aku Risty
Krisinggih seorang Korlap dan Skipper yang harus memilih suatu pilihan yang
sulit aku pilih dihari ini. skenario hari esok tergantung pada diriku hari ini.
Ya, ini terkadang terfikir sedikit tidak adil dimataku, tapi sungguh sangat
adil bagi teman-temanku. 5 hari pengarungan tentu saja membuat semua anggota
timku kelelahan untuk melakukan latihan lagi dihari esok jika kegiatan berjalan
sesuai skenarioku diawal dulu. Mas Henry dan Mas Gedhe, senior yang senantiasa
setia menemani kami anak-anak bandel susah diatur ini menawariku sebuah
pilihan. Seperti ini pilihannya. Besok aku diijinkan merubah skenarioku dari
latihan di Dam 8 menjadi recovery mandi air hangat di pemandian air panas yang
lokasinya tidak begitu jauh dari Base Camp Regulo apabila hari ini aku, Risty
Krisinggih dengan segala ketakutanku akan ketinggian bersedia loncat dari
ketinggian 9 meter dari jembatan bambu di kilometer 6 Rest Area Regulo.
Aaaaaaa, ini artinya aku dihadapkan dengan 2 pilihan. Aku loncat atau
teman-temanku kecewa berat karena mereka tidak bisa recovery ke pemandian air
panas gara-gara aku gak mau loncat. Hiks,hiks,hiks.
Bagi mereka mungkin mudah saja loncat dari ketinggian
berapapun. Tapi bagi aku?? Dulu ketika ORTUM caving di Gua Low Bangi aku pernah
gambling dari ketinggian 4 meter karena kesalahanku memakai alat descender. Hal
itu seperti membekas di fikiranku sampai saat ini. Dengan memakai alat pengaman
saja aku bisa gambling dan rasanya sakit sekali, apalagi ini, terjun dari
ketinggian 9 meter tanpa pengaman tali hanya sebuah pelampung dan helm??
Meskipun dibawahnya ada air, namun ketinggian ini tentu saja membuat nyaliku
ciut. Walaupun aku tau aksi ini dapat meninggikan mental dan mental itu sangat
penting dimiliki oleh pecinta arung jeram, tujuannya tidak lain adalah untuk
mengatasi kepanikan dalam keadaan yang darurat.
Sudah-sudah, hayalanku merajalela disela-sela perjalanan
dari Base Camp Regulo menuju Start Point Regulo. Terlebih lagi hari ini tidak
ada guide yang menemani kami, karena hari ini Regulo Adventure mendapatkan tamu
banyak sehingga semua guide dikerahkan
untuk mereka. Oh Tuhan, kali ini aku harus skyperan sendiri tanpa ada yang
membantu, selain itu aku masih harus
mengambil keputusan yang bijak sebagai seorang korlap untuk penentuan
kegiatan dihari esok.
Dengan segala sisa kekuatan yang masih ada aku mencoba
untuk terus mengarahkan perahuku melewati jeram-jeram Pekalen Bawah.
Alhamdulillah aku berhasil mengendalikan perahu dengan beribu kecemasanku dalam
perjalanan menuju ke Rest Area. Aaaaaa rupanya area ini sudah tiba di depan
mata. Duh, duh aduh. Jantungku berdetak tidak seperti biasanya. Rasanya ingin
berteriak menolak, ingin buang air kecil, ingin lari menerabas tebing dan atau
terjadi gejala-gejala ketakutan lainnya. Mungkin 5 hari yang sudah berlalu aku
masih bisa menghindari loncat dari ketinggian, tapi kali ini?? Adi, Hilman, Mas
Gedhe dan Mas Henry rela menunggu sampai aku mau loncat. Lalu bagaimana dengan
ketakutan ini? apa yang harus aku lakukan? T_T
Perlahan tapi pasti aku melangkahkan kaki menuju jembatan
bambu, teman-teman terus menyemangati aku yang saat itu sudah pasrah tanpa ada
fikiran apapun itu. Yang terlintas hanya aku gak mau mengecewakan
teman-temanku. Rasanya seperti ada angin beliung besar melanda tenggorokanku
yang kering, ada ikan paus besar dibawah sana yang siap melahapku, ada keuatan
yang terus memaksaku untuk terjun tanpa pikir panjang dan ada juga keindahan
dibawah sana yang menantikan kehadiranku. Perlahan berjalan, melihat kebawah,
membuat aku bolak balik ke tepi untuk hampir menggugurkan harapan ikan paus
yang sedang lapar dibawah sana. Tapi, disebelah kiri ada Hilman si tukang
kentut yang menghalangi jembatan sempit itu dengan badannya yang gemuk.
Sedangkan disebelah kanan ada Adi si kribo yang menghalangi badan jembatan
dengan kaki dan tangannya yang panjang. Entah mengapa kali ini aku jadi
berfikiran mereka jahat sekali karena memaksa aku, tapi aku faham juga dengan
kesabaran 2 anak manusia ini yang ada batasnya. Disebelah kiri depan ada Mas
Gedhe yang siap sedari tadi untuk mendokumentasikan moment yang mereka anggap
langka ini. Oh tuhan, bagaimana aku menjelaskan kepada mereka bahwa aku
benar-benar ketakutan?? Baik, aku rasa kali ini benar-benar aku tidak bisa lagi
mengelak. Karena aku masih tidak berani sampai ujung kesabaran Hilman dan Adi,
akhirnya aku memutuskan agar aku didorong saja dari jembatan dengan hitunan 1-3
dari mulutku. Rasanya aku tidak ingat lagi, hanya pasrah dan berharap ikan paus
dibawah tidak menelanku hidup-hidup T_T.
Kuinjakkan kedua kakiku diujung badan jembatan, dan
mulutku mulai menghitung. Satuuuuuu, duaaaaaa,,,,AaAaAaaaAAAAAAaaaAAAaaa,
ByurRrrRrRrRrRr, PAK, sakiiiit,, pipiku tertampar air karena jatuh duluan.
Posisiku salah dan sulit kuingat lagi seperti apa rasanya jantungku yang
terbang memisah dari dadaku saat itu.... mengambang lemas dipermukaan air
menjadi pilihanku untuk menempatkan lagi jantungku diposisinya. Haaaaaahhh
gilaaaaaaaaa...
DIBALIK
KEJADIAN PASTI ADA HIKMAHNYA, KARENA TUHAN PUNYA RENCANA
Awal
cerita Adi si kribo meriang
6 Juli yang menjadi hari bersejarah bagi diriku sendiri
rupanya tak berujung seperti apa yang kami inginkan. Malam kemarin teman kami
Adi menggigil meriang, suhu badannya panas dan sudah jelas bahwa ia sedang
sakit. Aku juga heran, kenapa secepat itu dia sakit? Padahal baru saja evaluasi
briefing dan dia masih sehat. Aku yang selain Korlap juga merangkap sebagai sie
konsumsi dan kesehatan tentu saja cemas akan kesehatannya. Aku beri obat,
kubikinkan teh jahe hangat dan kebaikan Hilman yang bersedia memijit Adi malam
itu seperti membuktikan saat-saat dimana kami harus melimpahkan kasih sayang
sesama teman. Awalnya aku dan Hilman ingin membawa Adi ke Puskesmas untuk
diperiksa. Tapi dia menolak. Kami fikir besok semoga keadaannya bisa membaik.
7 Juli 2012 di pagi buta aku bangun, solat dan lekas
mmbangunkan tim untuk menggantikan Adi yang seharusnya bertugas karena dia
masih meriang rupanya. Kamipun melakukan SPI tanpa Adi. Nah, selanjutnya adalah
bagian yang benar-benar membuat aku bingung sebagai seorang korlap, sie
konsumsi dan kesehatan. Sebagai korlap aku berfikir, harus seperti apa ini
selanjutnya jalan skenarioku? Tidak mungkin kami pergi ke pemandian air panas
sedangkan Adi dalam keadaan sakit. Sebagai sie konsumsi aku berfikir bagaimana
kelanjutan alur sarapan pagi ini? skenarionya kami berlima langsung sarapan di
tempat warungnya, tapi aku tidak mungkin mengajak Adi pergi ke warung untuk
sarapan. Akhirnya aku memutuskan untuk membungkus sarapan pagi dan membawanya
ke Base Camp. Sebagai sie kesehatan aku berfikir bagaimana caranya agar keadaan
Adi bisa membaik dan kuat sampai kembali ke Bravo Tenda?
Rupanya aku tidak mampu memutuskan itu semua sendiri.
Seharusnya aku meminta kesepakatan dari timku. Tapi disini aku melakukan
kesalahan, kuambil keputusan secara sepihak untuk membatalkan recovery dan
kuterima saran Mas Gedhe untuk langsung kembali ke Bravo Tenda tanpa
pertimbangan. Yang seharusnya kulakukan adalah briefing ulang untuk skenario
hari ini. Tapi ya bagaimana lagi, saat itu aku bingung harus bagaimana sampai
aku lupa bahwa disekitarku masih ada Mas Henry yang baik hati dan selalu
memberi solusi, ada Mas Gedhe yang punya sejuta nasehat untuk mengambil
tindakan dalam memecahkan masalah, ada Hilman yang bersedia membantu aku.
Walaupun keputusanku tepat untuk membatalkan recovery, namun tidak seharusnya
aku memutuskannya sendiri.
Dalam perjalanan
pulang ke Bravo Tenda, aku sempat berfikir bahwa untuk apa aku loncat 9 meter
kemarin? Tau gitu aku gak usah loncat...tapi sempat lagi aku berfikir Tuhan itu
punya rencana dalam setiap kejadian yang
ditakdirkan terhadap aku dan teman-temanku. Semua tidak ada yang sia-sia.
Seperti hukum kekekalan energi yang menyatakan bahwa energi tidak akan pernah
musnah atau hilang, hanya saja energi itu berubah menjadi bentuk yang lain.
Begitu pula dengan loncatanku kemarin, mungkin saja berubah menjadi suatu bentuk
peningkatan mental dalam diriku. Adi, kami berharap semoga kamu lekas sembuh
ya? ^_^
|
|
| Rescue by rope when human foot and treatment happen |
|
|
| Pasang instalasi ketika perahu wrap di Jeram Dayung |
| Action in Pekalen Atas waterfall |
Langganan:
Postingan (Atom)


